Vita Muzarrofah

vitamuzarrofah10.wordpress.com

Syukurilah

Seseorang boleh menjadi cerminan untuk kita, tapi jangan terlalu terobsesi untuk menjadi lain..
karna setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing …
dan kita tak mungkin untuk menjadi orang lain…
kita hanya bisa menjadi diri kita sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan yang telah Allah anugerahkan kepada kita…
jadi syukurilah segala yang ada pada diri kita, karna itu adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita …

Iklan

Melakukan yang Terbaik

Jika Kita tidak ingin DISAKITI, maka janganlah kita MENYAKITI orang lain..
Jika kita tidak ingin DIBENCI, maka janganlah kita utk MEMBENCI orang lain…
JIka kita ingin DISAYANGI, maka SAYANGILAH orang lain terlebih dahulu..
dan Jika kita ingin DIHARGAI, maka HARGAILAH orang lain terlebih dahulu …

Jika kita ingin orang lain melakukan itu untuk kita, maka kita lakukanlah terlebih dahulu..
dan Jika kita tidak ingin orang lain melakukan itu kpd kita, maka jannganlah kita melakukannya terlebih dahulu ..
karna sesungguhnya, segala yang kita lakukan itulah yang akan kelak kita rasakan ..

#so, Lakukanlah yang Terbaik, maka kita akan mendapat yang Terbaik pula …

Penglihatan Mata Kepala atau Kata Hati.?

Manakah yang akan kita Percaya..
Penglihatan Mata Kepala atau Kata Hati.???

terkadang penglihatan mata kepala tidaklah sesuai dengan apa yg trjadi sesungguhnya ..
tapi Penglihatan Mata Kepala adalah sebuah realita yang kita saksikan sendiri …

Kata Hati memang tidak bisa membohongi,
tapi terkadang Kata Hati membuat kita Sakit karna Kata Hati tak sesuai dengan kenyataan yang kita alami…
tapi Kata Hatilah yang memiliki KEJUJURAN yang Tinggi ..
Dia tak pernah membohongi apa yang sedang kita rasakan…
Walaupun mulut bisa berkata apa saja yang tak sesuai dengan kata hati atau dengan apa yang sedanng kita rasakan, tapi Hati tak bisa berbohong atas apa yang sedang dirasakan …

DIAM

DIAM adalah satu sikap yang memiliki banyak arti..
Tak selamanya diam itu baik..
Dan tak selamanya pula banyak berbicara itu baik..
Maka ambillah sikap yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi..

#So, Hati-Hatilah dalam bersikap…

Seorang Yang Tegar

Seorang yang tegar ialah yang dapat merubah duri menjadi bunga, dpt merubah tangisan menjadi sebuah senyuaman, merubah kesakitan mnjadi motivasi yg membangkitkan, mrubah caci maki menjadi motivasi, dapat merubah kesedihan menjadi kebahagiaan, dan yang dapat merubah amarah menjadi kesabaran..

Arti Tangisan Seorang “WANITA”

Seseorang Wanita tidak akan menangis dengan Mudah,
Kecuali di depan orang yang amat dia sayangi.
Dia menjadi lemah.
Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
Hanya jika dia sangat menyayangimu
Dia akan menurunkan rasa egoisnya.
Jika seorang wanita pernah menangis karenamu,
Dia adalah orang yang akan tetap Menunggumu
Jika seorang Wanita menangis karenamu.
Tolong jangan menyia-nyiakannya.
Mungkin karena keputusanmu,
Kau merusak kehidupannya.
Saat dia menangis didepanmu,
saat dia menangis karenamu,
Lihatlah matanya,
Dapatkan kau lihat dan rasakan sakit yang
Dirasakannya?
Pikirkanlah……………..
Wanita mana lagi yang akan menangis
Dengan murni penuh rasa sayang,…….
Didepanmu dan Karenamu…….
Dia menangis bukan karena dia lemah
Dia menangis bukan karena menginginkan
Simpati
Atau rasa kasih sayang
Dia menangis,Karena……
Menangis dengan diam-diam sudah
Tidak memungkinkannya lagi.
Pikirkanlah tentang hal itu.
Jika seorang wanita menangisi hatinya untukmu
Dan semuanya karena dirimu
Inilah waktunya untuk melihat apa yang telah kau
lakukan untuknya.
Hanya kau yang tau jawabannya

DIA….

Ya Allah …
Dia telah membuatku mengerti arti cinta ….
dia telah mambuatku belajar dari kesalahan ….
dia pun telah membuat ku mengerti arti arti sebuah kesetiaan …
walaupun keadaan sudah tak seperti dulu , tp aku masih berharap bahwa Engkau akn mempertemukan n mempersatukan kembali Aku dan Dia….

Haruskah Ku Bilang CINTA.?

Haruskah ku Bilang CINTA.?
Hati Senang…
NAmun Bimbang…
Ada cemburu juga Rindu …
Ku tetap MENUNGGU…

PERKATAAN YANG BAIK

Nabi SAW bersabda : “sebaik-baik perkataan ada empat : SUBHANALLAH , ALHAMDULILLAH , LAA ILAAHA ILLALLAH , dan ALLAHU AKBAR .”
(H.R Bukhari)

Disunnahkan Puasa Asyura Tanggal 9 dan 10 Muharram

Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah yang mulia ini.

Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, Nabi Musa ‘alaihissalam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda,

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ

“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.

Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.

Adalah Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Tatkala Nabi Shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. [HR Al Bukhari]

Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. [HR Al Bukhari No 1897]

Keutamaan puasa ‘Asyura di dalam Islam.

Di masa hidupnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya. Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ

“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Hukum Puasa ‘Asyura

Sebagian ulama salaf menganggap puasa ‘Asyura hukumnya wajib akan tetapi hadits ‘Aisyah di atas menegaskan bahwa kewajibannya telah dihapus dan menjadi ibadah yang mustahab (sunnah). Dan Al Imam Ibnu Abdilbarr menukil ijma’ ulama bahwa hukumnya adalah mustahab.

Waktu Pelaksanaan Puasa ‘Asyura

Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari ‘Asyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram. Di antara mereka adalah Said bin Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq dan yang lainnya. Dan dikalangan ulama kontemporer seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah. Pada hari inilah Rasullah Shallallahu’alaihi wasallam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”

Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.

Dan Al Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11.

Post Navigation

%d blogger menyukai ini: